Literasi Keuangan : FOMO Investasi: Antara Mengejar Cuan dan Menghindari Kerugian
Semangat Pagi BNI Hi-Movers,
Pernah melihat teman membagikan keuntungan investasinya di media sosial, lalu terpikir, “Kok saya belum ikut, ya?” Atau ketika sebuah saham atau aset sedang ramai dibicarakan, muncul dorongan untuk segera membeli karena takut harganya keburu naik?
Hati-hati, bisa jadi keputusan tersebut muncul karena FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut ketinggalan peluang setelah melihat orang lain lebih dulu mendapatkan keuntungan.
Di era digital, FOMO dalam investasi semakin mudah muncul. Unggahan portofolio, rekomendasi di media sosial, hingga obrolan di grup pertemanan dapat membuat suatu investasi terlihat seperti peluang yang wajib diikuti. Padahal, kita sering kali hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui modal, jangka waktu, maupun risiko yang ditanggung orang lain.
Ketika harga aset naik, kita terdorong ikut membeli. Saat harga turun, rasa takut bisa membuat kita panik dan menjual. Akhirnya, keputusan investasi berubah menjadi beli karena ikut-ikutan, jual karena ketakutan.
Sebelum Klik “Beli”, Pause Sejenak
Sebelum mengikuti investasi yang sedang ramai, coba tanyakan tiga hal kepada diri sendiri:
1. Apakah saya memahami investasinya?
Kenali cara kerja produk, potensi keuntungan, biaya, dan risikonya. Jangan membeli hanya karena sedang viral atau banyak direkomendasikan.
2. Jika nilainya turun, apakah kondisi keuangan saya tetap aman?
Pastikan dana investasi bukan dana untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, pembayaran cicilan, atau kebutuhan usaha.
3. Apakah investasi ini sesuai dengan tujuan keuangan saya?
Sesuaikan pilihan investasi dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko. Investasi untuk membeli rumah tentu berbeda dengan investasi untuk dana pensiun atau pengembangan usaha.
Salah satu cara menghindari FOMO adalah mengubah pertanyaan dari “Apa yang sedang naik?” menjadi “Saya berinvestasi untuk apa?” Dengan tujuan yang jelas, kita dapat memilih investasi secara lebih terencana dan tidak mudah terbawa tren.
Investasi juga dapat dilakukan secara bertahap dan konsisten, misalnya melalui Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu berinvestasi dengan jumlah yang relatif sama secara berkala. Metode ini bukan jaminan keuntungan dan tetap memiliki risiko, tetapi dapat membantu membangun disiplin tanpa harus terus-menerus menebak waktu terbaik untuk membeli.
Investasi Bukan Perlombaan
Pada akhirnya, investasi bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan cuan. Setiap orang memiliki kondisi keuangan, tujuan, dan kemampuan menghadapi risiko yang berbeda.
BNI terus mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui berbagai edukasi dan solusi keuangan, agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
BNI Hi-Movers, yuk tetap bijak dan berhati-hati dalam berinvestasi. Jangan biarkan tren atau keuntungan orang lain membuat kita terburu-buru. Pahami produknya, pertimbangkan risikonya, dan pastikan sesuai dengan tujuan keuangan.
Karena investasi yang baik bukan tentang ikut-ikutan mengejar peluang, tetapi tentang memilih dengan sadar dan konsisten menuju tujuan keuangan.