img

Literasi Keuangan: Digital Financial Behavior : Bijak Mengelola Uang di Era Serba Digital

Semangat Pagi BNI Hi-Movers,

Pernah berniat cuma buka aplikasi belanja untuk “lihat-lihat”, tetapi beberapa menit kemudian sudah sampai halaman checkout? Atau awalnya hanya ingin membeli satu barang. Lalu muncul diskon, cashback, gratis ongkir, atau tawaran paylater. Tanpa terasa, satu barang berubah menjadi beberapa pesanan.

Hal seperti ini semakin mudah terjadi di era digital. Membayar kopi tinggal scan QR, pesan makanan cukup beberapa klik, dan berbelanja bisa dilakukan kapan saja. Bahkan kartu pembayaran pun dapat tersimpan di aplikasi, sehingga transaksi selesai dalam hitungan detik.

Praktis? Tentu. Namun, justru karena begitu praktis, kita sering kehilangan satu hal penting yaitu jeda untuk berpikir sebelum mengeluarkan uang.

Di sinilah Digital Financial Behavior menjadi penting. Istilah ini menggambarkan bagaimana seseorang dengan bijak menggunakan teknologi ketika mengambil keputusan keuangan, mulai dari berbelanja, membayar, menabung, meminjam, hingga berinvestasi.

Mengapa Pengeluaran Kecil Perlu Diperhatikan?
Coba bayangkan pengeluaran sehari-hari.

Kopi Rp30 ribu.
Pesan makanan Rp50 ribu.
Belanja online Rp150 ribu.
Langganan aplikasi Rp100 ribu.

Masing-masing mungkin terasa biasa saja. Tidak ada satu transaksi yang terlihat terlalu besar. Tetapi jika ada tambahan pengeluaran rata-rata Rp50 ribu setiap hari, dalam satu bulan nilainya bisa mencapai Rp1,5 juta.

Di sinilah jebakannya. Masalah keuangan tidak selalu dimulai dari satu pembelian besar. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang-ulang juga bisa menggerus anggaran tanpa kita sadari.

Kebiasaan Keuangan Digital yang Perlu Diwaspadai
Teknologi bukan penyebab seseorang boros. Namun, kemudahan yang ditawarkan teknologi dapat membuat keputusan finansial menjadi lebih spontan.

Berikut beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan.

1. Membeli karena Promo, Bukan karena Kebutuhan
Diskon memang menyenangkan. Tetapi harga yang lebih murah tidak otomatis membuat sebuah barang menjadi kebutuhan.
Sebelum menekan tombol checkout, coba tanyakan kepada diri sendiri :
“Kalau tidak ada promo, apakah saya tetap ingin membeli barang ini?”
Jika jawabannya tidak, bisa jadi yang membuat kita tertarik bukan barangnya, melainkan promonya. Promo seharusnya membantu menghemat uang, bukan menjadi alasan untuk mengeluarkan uang yang sebelumnya tidak direncanakan.

2. Menganggap Paylater sebagai Uang Tambahan
Paylater memang memberikan kemudahan untuk melakukan pembayaran secara bertahap. Namun, paylater bukan tambahan penghasilan karena di balik kemudahan tersebut ada kewajiban yang tetap harus dibayar.

3. Tidak Menyadari Akumulasi Transaksi Kecil
“Cuma Rp20 ribu.”
“Cuma Rp30 ribu.”
Kalimat seperti ini mungkin sering muncul ketika melakukan transaksi digital. Masalahnya, jika transaksi tersebut terjadi hampir setiap hari, jumlah akhirnya bisa cukup signifikan.

4. Terlalu Cepat Mengambil Keputusan Finansial
Sekarang hampir semua produk keuangan bisa ditemukan secara digital. Investasi, pinjaman, asuransi, hingga berbagai layanan keuangan lainnya dapat diakses dengan mudah. Sebelum menggunakan suatu produk keuangan, pahami terlebih dahulu, manfaatnya; risikonya; biayanya; dan kewajiban yang menyertainya. Intinya Jangan mengambil keputusan hanya karena sedang ramai dibicarakan.

5. Lupa Menjaga Keamanan Transaksi
Jangan pernah memberikan OTP, PIN, password, atau data rahasia perbankan kepada siapa pun. Waspadai pula tautan mencurigakan, akun palsu, pihak yang mengaku sebagai customer service, serta penawaran investasi dengan keuntungan yang tidak masuk akal. Sebab, sebaik apa pun kita mengatur anggaran, semuanya bisa bermasalah jika keamanan transaksi diabaikan.

Peran BNI dalam Mendorong Perilaku Keuangan Digital yang Sehat
Transformasi digital membuat akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas. Namun, akses yang mudah perlu berjalan beriringan dengan literasi dan kebiasaan finansial yang sehat.

Sebagai bagian dari komitmen mendukung literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia, BNI terus mendorong masyarakat agar semakin cakap menggunakan layanan keuangan digital secara aman, bijak, dan sesuai kebutuhan.

Melalui layanan digital seperti wondr by BNI, berbagai aktivitas perbankan dapat dilakukan dengan lebih praktis. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diiringi keputusan finansial yang bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, teknologi bukanlah masalah utamanya, namun yang menentukan adalah bagaimana kita bijak dalam menggunakannya.

SHARE: