Menilik Kinerja Rupiah & IHSG Pasca Pemilu
Dini Adelina Puspitasari - Divisi REN
Pasca pemilu tanggal 17 April 2019, Rupiah dan IHSG terus melemah. Sebagai ilustrasi, pada tanggal 16 April 2019 Rupiah ditutup diangka 14.085 dan IHSG ditutup di posisi 6.481,54. Satu bulan setelahnya yakni pada tanggal 16 Mei 2019, posisi Rupiah ditutup diangka 14.152 atau turun sebesar 9,04% dibandingkan tanggal yang sama bulan sebelumnya, sedang IHSG ditutup di angka 5.895,73 atau mengalami penurunan sebesar 0,48% mtm. Angka IHSG ini diperkirakan masih memerah hingga akhir Juni nanti.
Gambar Trend IHSG 1 Bulan Terakhir

Gambar Trend Rupiah Terhadap USD 1 Bulan Terakhir

Update pada tanggal 20 Mei 2019 pukul 9.56 WIB, Rupiah berada di posisi di 14.452 dan IHSG berada di posisi 5.960,09. Baik Rupiah maupun IHSG masih lebih rendah dibandingkan dengan sebelum pemilu dilakukan. Sebenarnya apa saja yang menjadi sentimen negatif bagi Rupiah dan IHSG pasca pemilu?
Seperti yang telah dipaparkan di atas, kinerja Rupiah terus merosot selepas Pilpres 17 April lalu. Sehari pasca pencoblosan, Rupiah memang sempat menguat ke level Rp 14.040, namun setelahnya terus mengalami tekanan. Begitu pula dengan kinerja IHSG yang sempat melompat di angka 6.507,22 pada tanggal 18 April 2019 setelah sebelumnya bertengger di 6.481,54 pada 16 April 2019. Namu setelah itu IHSG terus turun hingga hari ini.
Merosotnya kinerja Rupiah dan IHSG ini salah satunya disebabkan oleh kehebohan paska pemilu. Kehebohan pasca pemilu diawali dengan klaim kemenangan dari kedua belah calon presiden dan diikuti dengan terjadinya kesalahan penginputan C1 di sistem hitung KPU. Hal ini menyebabkan beberapa pihak merasa dicurangi. Ditambah dengan banyaknya anggota KPPS yang meninggal dunia, membuat Pemilu ini semakin memanas hingga mendekati tanggal pengumuman yakni 22 Mei 2019. Wait and see terkait dengan hasil pilpres ini membuat investor asing memilih untuk melepas saham-saham di tanah air terlebih dahulu. Rupiahpun ikut terjun menemani kinerja IHSG.
Selain kehebohan pasca Pemilu, sentimen negatif juga berasal dari ketidakpastian global akibat adanya trade war. Trade War antara Amerika dan China kembali menghangat terutama setelah Trump menaikkan bea impor untuk produk China senilai US$200 miliar menjadi 25% pada 10 Mei 2019. Di hari tersebut, investor asing langsung membukukan net sell sebesar Rp897 miliar di pasar Indonesia.
Flash back di hari setelah pemilu, sejak 18 April hingga 16 Mei 2019, pasar saham berhasil membukukan net buy sebesar Rp44 triliun. Meski begitu, sebenarnya pembukuan positif hanya terjadi 5x dalam sebulan, di mana pembukuan tertinggi karena pembelian Danamon oleh MUFG. Sisanya, terjadi net sell harian. Sejak 1 Mei 2019 hingga 16 Mei 2019, net sell asing tercatat sebesar Rp6,4 triliun.

Peningkatan tarif yang dilakukan Trump pada 10 Mei lalu langsung di balas oleh Xijinping dengan meningkatkan tarif bea impor produk dari AS senilai US$60 miliar menjadi 25% yang akan resmi berlaku pada 1 Juni mendatang. Pasca pembalasan ini, terdapat 2 berita yang saling bertabrakan yakni pelunakan sikap AS yang mampu mendorong terjadinya perdamaian atau malah mengobarkan trade war. Kobaran trade war bisa semakin menyala jika Trump membalas melarang perusahaan AS menggunakan perangkat Huawei. AS memiliki keyaninan bahwa China menggunakan peralatan yang dibuat oleh Huawei Technologies Co Ltd untuk memata-matai. Bahkan AS juga aktif mendorong negara-negara sekutunya untuk tidak menggunakan Huawei. Sedangkan pelunakan sikap AS pada China tercermin dari pernyataan Trump yang dilansir dari Reuters bahwa negosiasi dengan China berlangsung "sangat baik" dan hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping "luar biasa". Hal ini diungkapkan pada 14 Mei 2019 lalu.
Melunaknya Trump membuat dollar semakin kuat dan memberikan efek negatif pada mata uang dunia lainnya, bahkan bagi Rupiah. Rupiah di tutup di angka 14.438 di tanggal 14 Mei lalu dan langsung melemah di angka 14.460 sehari kemudian. Di sisi penanjakan dollar tersebut, Trump meminta The Fed untuk menurunkan suku bunganya. Rupiah akan bisa sedikit bernafas jika suku bunga The Fed diturunkan.
Selain itu, pengumuman cadangan devisa yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada tanggal 8 Mei 2019 lalu juga ikut menekan Rupiah. Cadangan devisa posisi April 2019 menurun US$0,24 Miliar menjadi US$124,30 Miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan cadangan devisa membuat amunisi BI untuk melakukan intervensi stabilisasi Rupiah menjadi berkurang. Selain itu, BI juga melaporkan defisit cadangan devisa kuartal-I 2019 sebesar 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Defisit tersebut membaik dari kuartal-IV 2018 yang sebesar 3,6% PDB, namun masih lebih besar dari defisit kuartal-I 2018 yang sebesar 2,01%.
Kurs Rupiah semakin terpuruk setelah BPS merilis data neraca perdagangan pada bulan April 2019, yang menjadi defisit terburuk sepanjang sejarah. Defisit neraca perdagangan April 2019 sebesar US$2,5 miliar akibat penurunan ekspor maupun impor. Ekspor Indonesia posisi April tercatat US$12,6 miliar atau turun 13,1% yoy. sedangkan impor mencapai US$15,10 miliar atau turun 6,58% yoy. Sebelum ini, defisit terburuk terjadi pada Juli 2013 yakni sebesar US$2,3 miliar. Hal ini membuat fondasi penopang rupiah berkurang sehingga Rupiah dapat semakin melemah.